(photo : ajikagawa.wordpress.com)

Rudik Setiawan, Juragan Tahu Organik dari Malang (1)

Berjuang dari nol, ayah tiga anak berusia 28 tahun yang tinggal di Desa Klampok, Kec. Singosari, Malang (Jatim) ini berhasil jadi pengusaha tahu organik yang kini beromzet ratusan juta rupiah per bulan. Kesuksesannya memproduksi makanan rakyat ini juga telah membuahkan berbagai penghargaan dari sejumlah lembaga di dalam negeri.

Sejak kapan merintis usaha tahu?

Sejak tahun 2004 saya sudah punya usaha sendiri. Kalau bekerja secara patungan dengan orang lain, sudah sejak usia SMA. Membangun usaha ini tidak langsung besar, saya harus melalui proses panjang dan jatuh bangun.

Ketika masih sekolah di Madrasah Aliyah Negeri (setingkat SMA) di Malang, salah seorang tetangga di Desa Klampok, Kec. Singosari, Malang (Jatim) ingin mendirikan usaha pabrik tahu. Karena dia tak punya lahan, saya coba bergabung dengan menyediakan sawah orangtua sebagai lahan pabrik, lalu saya tambahi sedikit suntikan modal. Soal operasional saya tak ikut campur. Lagi pula saya tak mengerti soal pembuatan tahu. Tapi saya tertarik bergabung karena punya harapan, selain tiap bulan bisa mendapat uang dari sistem bagi hasil usaha, sekaligus dapat ampas tahu yang bisa dijual sebagai pakan ternak. Itu belum termasuk saya juga bisa ikut jualan tahu.

Usaha berjalan lancar?

Di awal usaha lancar sekali. Jadi kegiatan saya sehari-hari, subuh bangun dan membawa beberapa kotak tahu untuk dijual di pasar Kota Malang. Sekitar jam 09.00 saya berkemas untuk siap-siap berangkat kuliah di jurusan matematika Universitas Brawijaya. Saat itu adalah masa-masa yang mengesankan. Kalau waktunya masih longgar sehabis jualan tahu, biasanya sebelum ke kampus saya menumpang mandi di rumah teman, tapi kalau waktunya tak nutut , ya, terpaksa tanpa mandi langsung kuliah. Ha ha ha… Tapi setelah berjalan beberapa lama, mulai muncul persoalan.

Apa itu?

Ternyata pabrik tahu pertumbuhannya kurang sehat, sebab tiba-tiba saya tak lagi mendapatkan pasokan tahu. Tentu saja saya kelimpungan. Selain tak ada pemasukan, saya sudah punya pelanggan tetap di pasar. Bagaimana kalau pelanggan sampai lari ke pedagang lain? Lalu saya melakukan perundingan dengan si pemilik pabrik tahu. Akhirnya ditemukan kata sepakat. Pabrik diserahkan ke saya, tapi saya harus menambahkan uang yang totalnya sekitar belasan juta rupiah.

Jujur saja, ketika itu ada perasaan senang dan tidak. Senang karena punya usaha baru, tapi tidak suka karena saya tidak mengerti proses membuat tahu. Tapi mau tidak mau, roda perusahaan harus tetap berjalan sebab pabrik sudah jadi milik saya. Akan tetapi, semua tak seindah yang saya bayangkan. Justru di awal itulah timbul persoalan.

Semua karyawan inti pabrik yang berjumlah enam orang, yang selama ini menjadi andalan, tiba-tiba kompak keluar dari pabrik bersama-sama. Saya tak tahu lasannya. Tentu saja saya jadi makin bingung. Bayangkan, saya tak tahu cara bikin tahu, tiba-tiba harus memproduksi tahu. Karena tak ada orang yang ahli, saya akhirnya cari pekerja seadanya. Dari tukang ojek, tukang bangunan yang sedang nganggur, semua saya rekrut jadi karyawan. Caranya, dengan teknik meraba-raba.

Diawal memiliki pabrik tahu, Rudik merekut karyawan dengan keterampilan seadanya. Bahkan tukang ojek dan tukang banguan yang sedang menganggur, ia terima. Namun sekarang ia sudah dibantu banyak karyawan yang ahli membuat tahu organik.

 

Tahu organik, lebih sehat (photo : tantobode.blogspot.com)

 

Berhasilkah?

Berhasil jadi tahu. Tapi lucunya, tahu buatan saya saat digoreng tiba-tiba warnanya berubah jadi hitam. Akibatnya, pelanggan kapok beli tahu dari saya. Saya jadi binggung padahal prosesnya sudah benar tapi hasilnya, kok, tak karu-karuan. Di tengah kebingungan, saya coba mencari info kepada dosen teknologi pangan di kampus saya.

Nah, akhirnya terjawab mengapa tahu produksi saya jadi hitam saat digoreng. Salah satu penyebabnya, saya beri campuran gula merah pada kedelai. Sebab saya pernah dengar gula bisa bikin rasa tahu jadi lebih enak. Eh, tak tahunya justru sebaliknya. Benar saja, setelah saya mendapat penjelasan dari dosen, barulah saya berhasil membuat tahu dengan baik. Tapi untuk bisa menemukan formula yang pas, membutuhkan waktu cukup lama.

Kini memproduksi tahu organik. Sejak kapan?

Nah, sekitar tahun 2007 saya mulai coba bikin tahu organik. Idenya datang tanpa sengaja. Ketika saya mengantarkan istri pulang kampung ke Pacitan, di sana saya bertemu seorang kerabat yang punya wawasan cukup luas di bidang pertanian. Saat berbincang-bincang, kerabat tadi menyampaikan informasi, saat ini sebagian masyarakat mulai ada kesadaran hidup sehat dengan memanfaatkan makanan organik.

Dari ucapan itu saya langsung terpikir untuk bikin tahu organik. Setiba di rumah, saya langsung mencari petani kedelai yang tak menggunakan pupuk kimia tapi murni organik. Memang tak mudah, tapi akhirnya ketemu juga petaninya. Jadi setiap hari karyawan saya memproduksi dua jenis tahu, selain dari kedelai biasa, juga dari kedelai organik.

Tapi lagi-lagi, di awal saya terhadang pertanyaan konsumen dan pemasok. Mereka mempertanyakan sertifikasi yang menyatakan tahu saya benar-benar organik, tanpa bahan kimia dan pengawet. Padahal, biaya sertifikasi itu tak murah. Sebagai pengusaha kecil di desa seperti saya, tentu tak mampu. Tapi syukurlah, seiring berjalannya waktu saya berhasil mendapatkan sertifikasi itu dengan biaya yang tak terlalu mahal. Sejak mengantongi sertifikasi itu, saya makin percaya diri.

bersambung…

ADD YOUR COMMENT